Marvel Universe dan Kontekstualisasi Jagad Wayang

Marvel Universe dan Kontekstualisasi Jagad Wayang

Siapa yang tidak tahu film Avenger, film besutan Marvel Studio yang bercerita tentang sekelompok superhero yang bersama-sama melawan penjahat. Avenger menjadi salah satu film terlaris sepanjang masa. Di Indonesia, sequel terakhirnya (Avenger Endgame) bahkan tembus 11 juta penonton, menjadi film dengan penonton terbanyak di Indonesia. 

Film tentang seorang jagoan saja sudah menarik banyak penonton, apalagi film yang menyatukan banyak pahlawan super. Kita bisa menyebut beberapa film yang mengangkat ide serupa seperti Justice League garapan DC atau film The Expendable yang mengumpulkan para jagoan film laga macam Sylvester Stallone, Arnold Schwarzenegger, hingga Jet Li.

Lebih dari film action biasa, film-film kumpulan superhero biasanya dibuat jauh lebih spektakuler. Teknologi audio visual, efek, serta adegan-adegan ciamik akan membuat setiap aksi terasa menggelegar. Semua itu tidak mungkin tidak memanjakan dan memuaskan penonton. 

Sebenarnya, kedahsyatan aksi dalam film-film superhero itu mengingatkan saya pada aksi lain yang sering saya lihat di TVRI Jawa Tengah dan DIY, pertunjukan wayang kulit. Dalam wayang kulit, biasanya ada babak yang juga menggelegar misal adegan perang kembang (Arjuna vs Buto Cakil), perang gagal (bentrok awal), serta perang brubuh (peperangan puncak). Pada babak-babak tersebut, dalang biasa mengeluarkan teknik sabetan. Wayang bergerak, melesat, berputar, berpadu dengan teknik vokal serta irama gamelan yang atraktif dan cepat. Sebagaimana film aksi-fiksi ala Marvel atau DC, scene dalam wayang tersebut juga memiliki unsur spektakulernya sendiri.

Cerita tentang kumpulan superhero yang bersatu juga ada dalam kisah pewayangan. Sebutlah cerita perang Baratayudha dimana semua tokoh "super" berkumpul melawan Kurawa. Puntadewa, sang pemimpin yang ahli tombak serta memiliki kekuatan batin. Werkudara, kesatria yang sangat tangguh. Arjuna, pemanah ulung yang cerdik. Gatotkaca, pemuda yang memiliki kekuatan luar biasa layaknya Hulk. Abimanyu, ksatria dengan ilmu keprajuritan yang mumpuni. Kresna, satria dengan kekuatan setara dewa. Hanoman, kera sakti yang tak bisa mati. Srikandi, wanita yang berhasil mengalahkan Bisma, orang terkuat dari pihak Kurawa.

Demikian juga dalam epos Ramayana. Musuh utama, Rahwana, berhadapan dengan para "superhero" seperti Sri Rama dengan kesaktian nyaris setara dewa, Hanoman, Kumbakarna sang raksasa tangguh, hingga burung sakti Jatayu.

Jadi, unsur-unsur menarik dalam film-film aksi modern pada dasarnya ada juga dalam pertunjukan wayang, dari cerita hingga teknis sajian. Wayang pun pernah menjadi hiburan favorit rakyat. Dimana ada pentas wayang, orang akan berbondong-bondong datang baik yang dekat atau yang jauh. Mereka dengan suka cita mengikuti semalam suntuk. 

Namun, harus diakui sekarang wayang bukan pilihan. Ia kesulitan menghadirkan relevansi dengan kondisi kiwari. Faktor yang paling berpengaruh adalah bahasa dan durasi. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa yang tidak semua orang bisa memahami. Durasi pertunjukannya bisa sampai 6 - 8 jam, sesuatu yang mustahil di tengah zaman yang memuja efektivitas waktu. Bahkan film terlaris sepanjang masa berdurasi tak sampai 3 jam. 

Problem ini dipertebal dengan masih adanya pertentangan antara wayang pakem dan non-pakem. Bagi banyak pelaku, wayang diyakini tidak boleh keluar pakem, baik pakem cerita maupun pakem teknis penyajiannya. Hal ini membuat proses kompromi dan kontekstualisasi wayang menjadi semakin sulit. Wayang pun akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang lampau dan sangat eksklusif. Kemudian, statusnya sebagai warisan budaya yang diakui UNESCO kian menegaskan ia sesuatu yang sakral dan tinggi, kita menyebutnya adiluhung. Lampau - eksklusif - adiluhung, semua itu semakin mempertegas dan memperlebar jarak antara masyarakat dengan wayang. 

Maka, tantangan wayang adalah bagaimana mengkontekstualkan serta mendekatkan diri kepada khalayak yang memang berbeda dari zaman dahulu ketika wayang masih berjaya. Negosiasi dan kompromi mutlak diperlukan. Kelestarian wayang yang pakem tidak perlu dikhawatirkan, status adilihung nan sakral merupakan jaminan sendiri bahwa ia akan eksis.

Wayang harus bertransformasi baik dalam bentuk maupun pemaknaan ceritanya. Bentuk penyajiannya perlu menyesuaikan target audiens. Cerita-ceritanya layak dihadirkan dengan tafsir yang segar sesuai dengan konteks. Saat ini, sudah banyak pelaku yang melakukan itu. Kita dapat mengambil contoh beberapa nama seperti Nanang HP yang menyajikan wayang urban atau Sujiwo Tejo dengan musikalisasi wayangnya. 

Bentuk-bentuk transformasi sajian wayang pun bisa bermacam seperti komik, musik, hingga film. Film sendiri sejatinya dapat dimaknai sebagai kelanjutan dari budaya tontonan yang pernah mapan di masyarakat kita. Keduanya sangat identik: berbasis layar, audio dan visual. 

Salah satu kelebihan film dibanding wayang tentu pada visualisasi yang nyata. Segala aspek cerita dapat dihadirkan mulai dari suasana, emosi hingga ruang. Maka, film memiliki daya tarik yang berlipat-lipat dari tontonan wayang tradisional. Saat ini, ia juga adalah salah satu media yang efektif dan bisa menjangkau sangat luas. 

Konsep film Marvel pun sejatinya bisa disejajarkan dengan wayang, jika mereka punya Marvel universe kita punya wayang universe (jagad pewayangan). Jika mereka punya Iron Man, Thor, Captain America, dan Hulk, kita punya Yudistira, Kresna, Rama dan Gatotkaca. Mereka punya Thanos, kita ada Rahwana. Sebagaimana cerita Marvel yang sukses menyedot jutaan pasang mata itu, cerita wayang seharusnya bisa. Masalahnya jika suatu saat terwujud, apakah kita mau menonton atau tidak.

 

Penulis: Pandu Wijaya Saputra

Sumber Foto: hdwallpapers.in

Komentar

Artikel Terkait

Lebih Banyak