Publikasi

Berikut publikasi yang dilakukan / berkaitan dengan museum Sonobudoyo hingga tahun 2021.

Tradisi Daur Hidup Masyarakat Dalam Tatanan Adat Jawa

Jefri Eko Cahyono

Dalam upacara tradisi banyak mengandung muatan simbolik yang mencerminkan norma serta nilai budaya yang berlaku ditengah masyarakat.Kegiatan upacara adat daur hidup ini telah dilaksanakan sejak adanya tanda-tanda kehamilan sampai manusia meninggal dalam jangka waktu tertentu. Kegiatan tradisi daur hidup manusia ini berlangsung sejak kehamilan sampai kematian yang terbagi dalam berberapa lini waktu, yakni, kehamilan, kelahiran, kanak-kanak, remaja, perkawinan serta kematian. Secara esensial, pelaksanaan upacara tradisi daur hidup manusia tersebut di masyarakat zaman dahulu hingga saat ini tidak banyak perbedaan.Pada masa kehamilan itu, dalam kehidupan masyarakat Jawa umumnya akan diperingati dan diperhatikan dari awal bulan kelahiran sampai dengan menjelang kelahiran.Selain melakukan upacara wilujengan, pada masa kehamilan tersebut dalam budaya Jawa masih berkembang adanya kepercayaan-kepercayaan yang seolah diluar perhitungan nalar ataupun logika. Dalam kehidupan masyarakat Jawa dalam menyongsong kelahiran bayi, juga menyelenggarakan berbagai bentuk upacara tradisi, seperti brokohan, mendhem ari-ari, sepasaran, puputan, selapanan, dan wetonan. Dalam tradisi masyarakat Jawa, masa kanak-kanak merupakan masa yang harus diperhatikan dengan tujuan memohon keselamatan bagi si anak yang mengalami berbagai pertumbuhan dan perkembangan. Setelah masa kelahiran, tradisi masyarakat Jawa yang dilaksanakan pada masa kanak-kanak, yaitu tedhak siten, gaulan, sapihan, tarapan, tetesan panguran maupun supitan. Pada masa dewasa, tradsi yang berkembang di masyarakat Jawa yakni, khitanan (sunat) dan tarapan.Tradisi masyarakat Jawa juga masih sangat dekat dengan adat kematian.Dalam upacara kematian masyarakat Jawa pada umumnya akan melakukan kegiatan telunan, pitung dino, patang puluhan, satusan, pendak 1, pendak 2, dan sewunan. Kata Kunci : Daur Hidup, Tradisi, Jawa

Lebih Lanjut

Tinggalan Arsitektur Tradisional Jawa

Jefri Eko Cahyono

Arsitektur tradisional merupakan salah satu bentuk tinggalan warisan budaya yang berbetuk bangunan seperti rumah. Pada pandangan seni, arsitektur Jawa memiliki nilai seni estetika tersendiri yang merepresentasikan simbolisasi dari realitas kehidupn melalui sebuah bangunan. Di Museum Sonobudoyo terdapat satu serat khusus yang menjelaskan perhitungan tentang penerapan ukuran dalam pembuatan rumah dan nama bentuk rumah, serta kerangka kayu yang digunakan sebagai pedoman arsitektur tradisional Jawa. Dalam kajian arsitektur yang didasarkan pengetahuan dari Serat Kawruh Kambeng, terdapat beberapa jenis-jenis rumah arsitektur tradisional Jawa. Dalam Serat Kawruh Kambeng bangunan Hastana ini adalah bangunan makam atau cungkup makam yang biasanya berbentuk tajug. Berdasarkan hal diatas, dapat diketahui bahwa dalam arsitektur tradisional Jawa memiliki konsep, orientasi, konfigurasi ruang yang melekat erat dan saling berkesinambungan. Melihat tatanan rumah atau bangunan arsitektur tradisional Jawa dalam Serat Kawruh Kambeng, mengartikan bahwa tatanan rumah memiliki maksud dan makna tersendiri.Kata Kunci : Arsitektur, Tradisional, Jawa

Lebih Lanjut

Isyarat Kebencanaan Dari Sebuah Genta

Ririh Rahajeng

Menurut Pasal 1 ayat 6 Peraturan PemerintahNomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, mitigasi diartikan sebagai serangkaian upaya yang dilakukan untuk mengurangi risiko bencana, baik lewat pembangunan fisik ataupun penyadaran serta peningkatan kemampuan dalam menghadapi ancaman bencana. (Kompas, 26 April 2021). Masyarakat jawa kuno dahulu diperkirakan sudah mengenal mitigasi bencana dengan sangat baik, hal itu diketahui dari hasil penggalian dalam penelitian dibeberapa situs yang tidak ditemukannya kerangka manusia maupun kerangka binatang ternak yang menjadi korban. Salah satu alat mitigasi bencana pada saat itu diperkirakan dengan menggunakan alat-alat yang bias mengeluarkan bunyi-bunyian seperti genta (lonceng), kentongan maupun alat musik (gamelan, kenong, kempul, dll) yang pada perkembangannya di masa sekarang dengan menggunakan sirene. Sebuah genta berbahan perunggu yang saat ini disimpan di Museum Negeri Sonobudoyo diperkirakan mempunyai fungsi yang sama dengan hal diatas, yaitu selain sebagai penanda upacara keagamaan juga sebagai penanda adanya bencana pada saat itu (gempa bumi, angin topan, gunung meletus, dll). Kata Kunci: genta, jawa kuno, mitigasi bencana.

Lebih Lanjut

APALAH ARTI SEBUAH NAMA: MENGULIK PERHIASAN DI BALIK SURJAN

Matheus Raoul Supriyadi

Timang-lerep adalah sepasang perhiasan yang merupakan kepala sabuk, atau dalam bahasa Belanda dikenal sebagai hoofdstuk, Jawa. Popularitas timang-lerep sempat mengalami masa surut sebelum mulai digandrungi kembali oleh para kolektor di beberapa tahun terakhir. Hanya saja, popularitas yang meningkat tersebut tidak dibarengi dengan munculnya kembali sumber literatur tertulis yang mengulas mengenainya. Alhasil, banyak beredar informasi yang bersifat lisan dan masih bersandar pada asumsi semata. Dalam artikel ini, penulis mencoba untuk menyajikan sebuah pandangan yang baru mengenai aspek penamaan tipologi timang-lerep yang penulis kutip dari hasil dokumentasi Jasper dan Pirngadie dalam serial bukunya: De Inlandsche Kunstnijverheid in Nederlandsch-Indië (1927). Dari hasil studi literatur ini, ditemukan bahwa penamaan tipologi timang-lerep yang beredar di masyarakat masa kini ternyata memiliki perbedaan dari masa permulaan abad ke-20 lalu. Perbedaan tersebut umumnya terletak pada perbedaan persepsi terhadap desain visual dari timang-lerep yang bersangkutan. Kata Kunci : Timang, Lerep, Sabuk  

Lebih Lanjut

Kejayaan yang Hilang, Kerajinan Logam Kotagede

Luki Antoro

Artikel Kajian 

Lebih Lanjut

Lodji Mataram: Dari Gedung Kemasonan Hingga Dewan Perwakilan

Arifa Rida Naila

Artikel Kajian

Lebih Lanjut