Yuk Cari tahu Sejarah, Makna, dan Pelaksanaan Tradisi Lelabuhan

Yuk Cari tahu Sejarah, Makna, dan Pelaksanaan Tradisi Lelabuhan

Indonesia kaya akan warisan budaya yang mengagumkan, salah satunya adalah tradisi lelabuhan. Tradisi ini memiliki akar yang dalam dalam sejarah dan membawa makna yang mendalam bagi masyarakat, terutama di wilayah Keraton Yogyakarta. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi asal-usul, makna, dan pelaksanaan dari tradisi lelabuhan.

 

Tradisi lelabuhan telah dijalankan sejak zaman Kerajaan Mataram Islam di bawah pemerintahan Panembahan Senopati, yang merupakan pendiri Kerajaan Mataram Islam. Pada masa itu, tradisi ini berawal dari perjanjian kerjasama antara Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul, yang kemudian memunculkan upacara lelabuhan sebagai bentuk persembahan kepada Tuhan dan penghormatan terhadap leluhur Keraton Yogyakarta.

 

Makna dari tradisi lelabuhan terkait erat dengan asal katanya. Kata "lelabuhan" berasal dari kata "lelabuh" yang memiliki arti membuang, meletakkan, atau menghanyutkan. Dalam konteks tradisi ini, maknanya adalah sebagai doa dan pengharapan untuk membuang segala macam sifat buruk serta sebagai bentuk persembahan kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Tradisi lelabuhan juga dimaknai sebagai bentuk rasa syukur dan doa bagi keselamatan raja sekaligus tanda penghormatan bagi para leluhur Keraton Yogyakarta.

 

Pelaksanaan Tradisi Lelabuhan

Tradisi lelabuhan dilaksanakan secara rutin dengan dua bentuk acara utama, yaitu lelabuhan alit dan lelabuhan ageng. Lelabuhan alit digelar setiap tahun pada tanggal 30 Rejeb dalam kalender Jawa sebagai peringatan Jumenengan Dalem (hari penobatan), sedangkan lelabuhan ageng dilakukan delapan tahun sekali pada tahun Dal atau setiap sewindu penobatan Sultan.

Lokasi pelaksanaan tradisi lelabuhan juga sangat beragam dan memiliki nilai sejarah yang mendalam. Beberapa lokasi tradisi lelabuhan di Keraton Yogyakarta antara lain:

  1. Lelabuhan Parangkusumo

Tradisi lelabuhan Parangkusumo tidak hanya merupakan ritual sejarah, tetapi juga perwujudan kekayaan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pantai Parangkusumo di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, menjadi saksi bisu dari upacara yang menghanyutkan berbagai perlengkapan adat ke laut selatan sebagai bentuk persembahan kepada alam dan roh leluhur. Masyarakat dengan khidmat mengikuti prosesi ini yang diiringi dengan mantra-mantra kuno dan nyanyian adat yang mengiringi keheningan pantai. Tradisi ini memberikan pelajaran tentang pentingnya menghormati alam dan melestarikan warisan nenek moyang.

  1. Lelabuhan Merapi

Lelabuhan Merapi menjadi puncak spiritual bagi masyarakat di lereng Gunung Merapi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Di petilasan Juru Kunci Merapi Mbah Maridjan, ritual berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Perlengkapan adat, atau uborampe, dipersiapkan dengan teliti sebagai bagian dari persembahan kepada gunung yang disucikan. Perjalanan uborampe ke Sri Manganti, Alas Bedengan, yang berada di ketinggian 1.550 m dpl, menambah nuansa sakral dari tradisi ini. Lelabuhan Merapi menjadi titik temu antara spiritualitas, keberanian, dan penghormatan terhadap alam.

  1. Lelabuhan Lawu

Tradisi lelabuhan Lawu di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, memiliki daya tarik tersendiri. Lokasi pelaksanaannya seringkali berada di Hargo Dalem atau Cemoro Sewu, tempat-tempat yang dihiasi dengan nuansa mistis dan spiritualitas yang mendalam. Persembahan yang dihanyutkan sebagai bagian dari ritual ini mengandung makna penghormatan kepada kekuatan alam dan leluhur. Masyarakat setempat mengikuti prosesi ini dengan penuh rasa hormat dan kesungguhan dalam memelihara tradisi nenek moyang.

  1. Lelabuhan Dlepih Khayangan

Di Kecamatan Tirtamaya, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, tradisi lelabuhan Dlepih Khayangan menjadi simbol kebersamaan antara manusia dan alam semesta. Upacara yang dijalankan di pertapaan Selo Payung menggambarkan hubungan erat antara spiritualitas dan kedamaian batin. Perlengkapan adat yang dihanyutkan sebagai bagian dari lelabuhan mengandung harapan akan kelancaran hidup dan kesejahteraan bagi masyarakat. Tradisi ini bukan hanya ritual, tetapi juga ajaran tentang kearifan lokal dan keberagaman budaya yang harus dijaga dan dilestarikan.

Tradisi lelabuhan menjadi bagian penting dari warisan budaya dan sejarah di Indonesia. Selain sebagai bentuk persembahan dan doa, tradisi ini juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antara masyarakat dengan leluhur serta alam sekitarnya.

Komentar

Artikel Terkait

Lebih Banyak