Dewi Saraswati Sebagai Sumber Inspirasi dan Kebijaksanaan dalam Ilmu Pengetahuan

Dewi Saraswati Sebagai Sumber Inspirasi dan Kebijaksanaan dalam Ilmu Pengetahuan

Dewi Saraswati merupakan sosok yang melambangkan kebijaksanaan, pengetahuan, dan inspirasi dalam kepercayaan Hindu. Sebagai dewi ilmu pengetahuan, Saraswati menjadi pusat perhatian dalam perayaan dan ritual yang dilakukan oleh umat Hindu di Indonesia dan di seluruh dunia. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi makna, simbolisme, dan penghormatan terhadap Dewi Saraswati sebagai sumber inspirasi ilmu pengetahuan.

Dewi Saraswati mengandung makna yang dalam dalam kehidupan manusia. Namanya berasal dari dua kata, yaitu “saras” yang berarti mengalir layaknya air, dan “wati” yang berarti memiliki. Gabungan kata tersebut menggambarkan bahwa ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang mengalir dalam kehidupan kita, tanpa mengenal batasan usia, jenis kelamin, atau perbedaan lainnya.

Menurut ajaran Hindu, Saraswati adalah Sakti dari Dewa Brahma, yang merupakan dewa pencipta alam semesta. Hal ini menunjukkan kedudukan penting Dewi Saraswati dalam menyediakan arahan dan panduan bagi manusia dalam mencapai pengetahuan yang suci dan benar. Dalam ikonografi Hindu, Dewi Saraswati sering dilambangkan sebagai wanita cantik dengan empat lengan. Setiap lengan membawa atribut yang memiliki makna simbolis dalam konteks ilmu pengetahuan.

Lengan pertama Saraswati membawa genitri, simbol pengetahuan yang tidak terbatas dan selalu berkembang. Genitri juga melambangkan pengendalian pikiran yang penting dalam proses belajar dan memahami pengetahuan. Lengan kedua membawa keropak atau buku suci, menggambarkan pentingnya menuliskan dan menyebarkan ilmu pengetahuan kepada generasi selanjutnya. Lengan ketiga membawa wina, melambangkan berbagai sumber pengetahuan dan pengingat akan keanekaragaman pengetahuan yang harus dipelajari. Lengan terakhir membawa bunga teratai, yang melambangkan kesucian ilmu pengetahuan dan kemampuannya untuk memperbaiki manusia, sebagaimana bunga teratai yang tetap indah meskipun hidup di kubangan lumpur.

Dewi Saraswati juga sering dihubungkan dengan simbol-simbol lain seperti angsa, yang melambangkan pemilihan dan pemilahan ilmu pengetahuan, serta burung merak yang melambangkan keanggunan dan kewibawaan dalam menguasai pengetahuan.

Hari Raya Saraswati merupakan momen penting bagi umat Hindu untuk menghormati dan merayakan ilmu pengetahuan. Perayaan ini dilakukan setiap 210 hari sekali pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung. Dalam perayaan ini, umat Hindu membersihkan dan menghormati segala sumber pengetahuan seperti buku, lontar, dan alat tulis lainnya.

Meskipun terdapat mitos yang menyatakan bahwa pada Hari Raya Saraswati orang dilarang belajar atau membuka buku, hal ini sebenarnya terbatas pada setengah hari saja, yaitu dari pukul 6 pagi hingga pukul 12 siang. Hal ini dilakukan sebagai penghormatan terhadap sumber-sumber ilmu pengetahuan yang ada.

Tidak hanya di Indonesia, peringatan Hari Raya Saraswati juga dilakukan oleh umat Hindu di berbagai negara seperti Jepang, Jerman, Belgia, Belanda, India, dan Amerika Serikat. Setiap komunitas Hindu merayakan Hari Raya Saraswati dengan cara yang sesuai dengan kebudayaan dan tradisi lokal mereka. Peringatan Hari Raya Saraswati juga menekankan pentingnya mengamalkan ilmu pengetahuan sehari-hari dengan sungguh-sungguh. Hal ini tidak hanya berlaku bagi para siswa, tetapi juga bagi semua kalangan masyarakat Hindu sebagai penghormatan terhadap Dewi Saraswati dan kebijaksanaan yang disimbolkan.

Dewi Saraswati menjadi inspirasi utama penamaan gedung Perpustakaan Sonobudoyo. Penamaan baru gedung tersebut secara resmi diperkenalkan pada tanggal 19 Maret 2024, bersamaan dengan peresmian tata pamer baru Gedung Thomas Karsten Museum Sonobudoyo.

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/3545892/memaknai-hari-raya-saraswati-turunnya-ilmu-pengetahuan-ke-bumi 

Komentar

Artikel Terkait

Lebih Banyak