Batik Kawung, Melambangkan Hubungan Raja dengan Rakyatnya

Batik Kawung, Melambangkan Hubungan Raja dengan Rakyatnya

Motif batik kawung ditengarai sudah dikenal di pulau Jawa sejak abad ke-13 dengan ditemukannya motif kawung pada ukiran dinding candi. Kata kawung dapat dikaitkan dengan kata kwangwung yang mengacu pada sejenis serangga berwarna coklat mengkilap dan berpenampilan indah. Di sisi lain, sebagian orang menghubungkan kata kawung dengan sejenis pohon palem atau buah pohon aren (kolang-kaling). Semua bagian pohon aren dari bagian daun, batang, buah, sampai akar sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Hal tersebut mengisyaratkan batik kawung memiliki filosofi agar manusia dapat berguna bagi siapa saja dalam kehidupan, baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara. Makna lain yang terkandung dalam motif kawung adalah agar seseorang dapat menjadi manusia unggul sehingga mampu menjadikan hidup lebih bermakna.

Kain batik kawung memiliki motif berupa empat lingkaran (elips) mengelilingi lingkaran kecil sebagai pusat dengan susunan memanjang menurut garis diagonal miring ke kiri atau ke kanan berselang-seling. Lingkarannya terkadang diisi dengan dua atau lebih tanda silang atau bisa juga ornamen lain seperti garis-garis berpotongan atau titik-titik. Motif yang berupa lingkaran kecil yang dikelilingi empat lingkaran elips melambangkan raja sebagai pusat yang dikelilingi rakyatnya. Kerajaan merupakan pusat ilmu, seni budaya, agama, pemerintahan, dan perekonomian. Rakyat harus patuh pada pusat, sebaliknya raja juga senantiasa melindungi rakyatnya. Motif batik kawung didominasi warna putih dan coklat.

Artikel Terkait

Lebih Banyak