Tumpeng Sebagai Suatu Simbol Kehidupan di Masyarakat

Tumpeng Sebagai Suatu Simbol Kehidupan di Masyarakat

Kebudayaan merupakan suatu hal yang tidak lepas dari pola kehidupan masyarakat. Dalam kehidupan masyarakat upacara tradisional menjadi sebuah kegiatan teknis sehari-hari. Dalam hal ini, manusia melakukan kegiatan upacara tradisional sebagai salah satu bentuk permohonan keselamatan, keberkahan, ketentreman, serta berbagai hal lainnya kepada sang maha kuasa. Sebagai masyarakat Jawa, yang teguh dengan berbagai tradisi adat, terdapat penyertaan makanan dalam proses yang ada dalam pelaksanaan upacara sebagai ubarampe

 

Makanan merupakan suatu perwujudan rasa syukur kepada sayng pencipta atas segala keberkahan karunia yang telah di berikan sekaligus atas wujud panjatan doa. Dalam kosmologi Jawa, pemanjatan doa-doa idealnya dilakukan dengan kesungguhan dalam penyampaiannya. Oleh karenanya pada pelaksanaan Upacara adat selalu disertai dengan berbagai panganan yang disertakan dengan penuh harapan agar doa dapat dikabulkan. 

 

Pada pameran Annual Museum Exhibition (AMEX) yang bertajuk "Upaboga: Ketika Makanan Bercerita", menyajikan berbagai beberpa jenis replika makanan yang biasanya dihadirkan dalam upacara tradisi Masyarakat Jawa, salah satunya adalah tumpeng. Tumpeng merupakan salah satu sajian hidangan makanan yang kompleks dengan berbagai lauk-pauk. Istilah Tumpeng sendiri memiliki makna simbolik yang tercermin didalamnya. Secara estimologis, tumpeng merupakan akronim dari "Tumpaking Panguripan-Tumindak Lempeng-Tumuju Pangeran" (tertatanya hidup berjalan lurus-kepada Tuhan).

 

Bentuk kerucut pada tumpeng merupakan sebuah miniatur gunung yang dalam mitologi Hindu sebagai tempat persemayaman para dewa dan makhluk kedewaan. Dalam serangkaian makanan yang terdapat dalam tumpeng memiliki arti sebagai sebuah perlambangan kehidupan manusia. Pada masyarakat Jawa setidaknya terdapat 37 jenis tumpeng, diantaranya: Tumpeng Megana, Tumpeng Janganan, Tumpeng Pungkur, Tumpeng Alus, Tumpeng Dumplak, Tumpeng Kendit, dan berbagai jenis tumpeng lainnya. 

 

Makanan sebagai sesaji yang terdapat dalam upacara tradisional Jawa yang selalu memiliki aspek simbolik maupun filosofi yang menjadi gambaran alam berpikir di dalam kehidupan masyarakat. (JEF)

Artikel Terkait

Lebih Banyak