Alt text
Pameran Dalam Rangka Memperingati Hari Museum Indonesia 2016

     Museum Sonobudoyo mengikuti pameran dalam rangka Peringatan Hari Museum Indonesia Tahun 2016 yang jatuh pada tanggal 12 Oktober. Adapun tema pameran Museum Sonobudoyo kali ini yaitu “Panakawan Dudu Guru Nanging Digugu”. Kegiatan pameran ini diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman serta Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Kegiatan ini secara resmi telah dibuka oleh Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Bapak Harry Widianto di Museum Benteng Vredeburg dengan tema “Museum : Wajah Peradaban Kita” (Kamis, 06/10/2016). Pameran ini akan berlangsung sejak 06 sampai 12 Oktober 2016 di Museum Benteng Vredeburg.

     Adapun penjelasan singkat tentang “Panakawan Dudu Guru Nanging Digugu” adalah sebagai berikut : Guyonan para panakawan selalu ditunggu dalam setiap pementasan wayang. Tokoh panakawan asli Nusantara. Panakawan adalah sebutan umum untuk para pengikut kesatria dalam khasanah kesusastraan Indonesia terutama di pulau Jawa (KBBI, Kamus Besar Bahasa Indonesia).

     Sosok Semar, Gareng, Petruk, Bagong, merupakan panakawan Pandawa dalam cerita Mahabarata, sedangkan Togog dan Mbilung, panakawan para Kurawa. Dalam cerita Panji dimana terdapat banyak tokoh bangsawan dalam penyamaran, dikenal Bancak, Doyok, Penthul, Tembem, Sebul, Palet, Jurudeh (Jurudyah), dan Prasanta. Kisah Prabu Brawijaya juga menceritakan Sabdapalon dan Nayagenggong sebagai panakawan setia sampai akhir Majapahit.

     Panakawan dalam pementasan Wayang Topeng Panji hadir dengan bentuk topeng yang unik, hanya menutup separuh wajah, menyisakan mulut yang bebas berbicara. Panakawan bebas bicara. Berbeda dengan para tokoh utama seperti Panji, Gunung Sari, Dewi Sekartaji yang dialognya disuarakan hanya oleh dalang.

     Dialog panakawan biasanya berisi kondisi sehari-hari masyarakat dimana pentas diselenggarakan. Disinilah terjadi interaksi panggung dan penontonnya. Panakawan bebas menyatakan pendapat, canda bahkan kritik atas kondisi terkini di lingkungan tersebut. Panggung menjadi ruang yang aman untuk menyuarakan apa sesungguhnya yang sedang dirasakan rakyat. Boleh dibilang panakawan mewakili “suara rakyat”. Tentu tidak disampaikan dengan suara keras dan emosi tinggi, namun dengan tawa, canda dan kegembiraan.

     Panakawan mendapat tempat yang besar dalam masyarakat Jawa. Dengan penuh canda, panakawan selalu mengingatkan pada kita untuk kritis pada kondisi sosial di sekitar kita, serta untuk selalu melihat inti kebaikan dalam setiap peristiwa.

     Dalam bahasa Jawa, panakawan terbentuk dari kata pana (paham) dan kawan (teman). Panakawan bertugas sebagai teman sejati, selalu mengingatkan inti kebaikan dalam setiap peristiwa. Dalam cerita pewayangan, panakawan dipercaya adalah wujud dari para dewa yang bertugas menemani, mengingatkan dan menjaga para kesatria. Dalam kehidupan kita sehari-hari, peran panakawan seperti “hati nurani”, suara yang tidak pernah berhenti mengingatkan kita, jika kita mau berusaha memahaminya.