Jemparingan Satunya Raga dan Rasa dalam Seni Panahan Tradisional Jawa

     Museum Negeri Sonobudoyo mengikuti Pameran dalam rangka Vredeburg Fair 2017 yang dilaksanakan di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Dalam kesempatan kali ini Museum Sonobudoyo mengusung tema “Jemparingan Satunya Raga dan Rasa dalam Seni Panahan Tradisional Jawa. Kegiatan ini akan berlangsung sejak 11 – 16 Oktober 2017. Masyarakat umum dapat mengunjungi pameran ini secara gratis.

     Keberadaan panah dan busur sudah dikenal oleh masyarakat Jawa sejak zaman leluhur terdahulu, seperti tergambar dalam cerita – cerita pewayangan . Panah dalam cerit apewayangan merupakan salah satu senjata dan pusaka yang dimiliki oleh para tokohnya. Sejumlah tokoh sangat ahli dalam memanah. Sebut saja Arjuna, Karna, dan Srikandi. Sedangkan jemparingan gaya Mataraman, asal mulanya diketahui berasal dari zaman Mataram Islam. Hal ini dapat diketahui berdasarkan gambaran prajurit Nutra  yang bersenjatakan gendewa (busur) dan jemparingan (anak panah). Jemparingan merupakan salah satu aktivitas para bangsawan dan kesatria di lingkungan Kratondalam gladi keperwiraan dan kridha keprajuritan. Namun dalam perkembangannya, seni memanah ini kini menjadi olahraga yang telah memasyarakat dan mulai banyak diminati oelh berbagai kalangan. Tidak hanya sekedar sebagai olahraga ataupun hiburan, aktivitas Jemparingan  ini juga menjadi salah satu kegiatan pelestarian budaya.

     Di lingkungan Kraton Yogyakarta sendiri tradisi Jemparingan  masih sangat dilestarikan. Terdapat sejumlah latihan rutin yang biasa dilangsungkan dalam rangka memperingati suatu peristiwa, misalnya Wiyosan Dalem HB X.