Wayang Sadad, Representasi Cinta Budaya dan Instrumen Dakwah Islam

Wayang Sadad, Representasi Cinta Budaya dan Instrumen Dakwah Islam

Representasi cipta budaya dalam ajaran Islam di Nusantara bukan hanya sebagai pembentuk identitas komunitas muslim semata. Realitas di masyarakat menunjukkan bahwa agama dalam struktur sosial merupakan sebuah praktik keseharian. Produksi sebuah ajaran keagamaan dilakukan dengan dukungan berbagai sarana komunikasi yang sudah ada dan mudah diterima oleh masyakat lokal. Salah satunya menggunakan wayang sebagai sarana komunikasi di masyarakat.

Wayang Sadad mulai dipentaskan pada tahun 1985 di Desa Trucuk. Wayang Sadad dibuat oleh seorang seniman sekaligus mubaligh bernama Suryadi. Secara etimologis, kata Sadat berasal dari kalimat “syahadat” yang merupakan rukun iman yang pertama bagi pemeluk agama Islam. Iman yaitu meyakini sepenuh hati bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Esa dan Muhammad adalah Rosullullah. Suryadi memiliki dua tujuan dalam pementasan Wayang Sadad. Pertama, Wayang Sadad digunakan untuk berdakwah ajaran tauhid ke-Islaman. Kedua, melalui pertunjukan Wayang Sadad, Suryadi ingin merangsang apresiasi umat Islam, khususnya masyarakat Trucuk dan sekitarnya pada tahun 1980-an, yang dinilainya masih rendah terhadap seni tradisi.

Artikel Terkait

Lebih Banyak